Pernahkah anda berpikir untuk apa hidup ini? Pernahkah anda merasa kesal
pada kehidupan ini? Pernahkah anda merenungkan, dan bertanya dalam
hati, serta menyesali keberadaan anda di dunia ini? Pernahkah anda
berpikir untuk lebih baik mengakhiri saja semua ini? Karena segala
sesuatu nampak sia-sia. Segala sesuatu nampak tak punya arti. Dan segala
sesuatu nampak hanya mengarah kepada kegagalan, penderitaan dan sakit
hati saja. Ya, kita semua sekali waktu pernah merasa sia-sia, gagal dan
tak punya arti apa-apa di tengah kehidupan yang demikian penuh gejolak
ini. Kita terpencil jauh di dalam hari-hari yang terasa kian memanjang
dan tanpa ujung ini.
Kita menangis di tengah tawa ria lingkungan. Kita tersudut sendiri
dan tersisih di tengah keramaian dan kecemerlangan dunia yang hiruk
pikuk. Kita tersiksa oleh rasa sakit hati, dendam, rasa pahit, perih dan
ketakberdayaan menghadapi dan menerima segala dakwaan, kutuk dan
pandangan lingkungan kita. Kita bahkan merasa kehilangan diri kita
sendiri saat kita ingin menyadari keberadaan kita. Kita merasa tak punya
arti apa-apa lagi. Kita kehilangan diri kita. Bahkan untuk menangis pun
kita tak punya tenaga lagi. Hanya rasa hampa tetapi penuh kemarahan
yang memenuhi hati dan jiwa kita saja. Kita pasrah walau ingin melawan.
Kita gagal dan tak mampu bangkit lagi. Kita pasrah dan mau semuanya ini
segera berakhir. Ah, pernahkah anda mengalami semua ini, temanku?
Suatu ketika, Nietzhe mengatakan bahwa, “Dia yang mengetahui untuk
apa dia hidup, akan sanggup mengatasi hampir semua yang terjadi atas
dirinya”. Maka saat kita kehilangan diri kita, saat kita tidak tahu
untuk apa lagi kita hidup, saat kita merasa tidak lagi berguna, kita pun
tak lagi mampu untuk menghadapi kehidupan ini. Kita tidak sanggup lagi
untuk tertawa dan merasa bahagia. Segala canda tawa dari seputar kita
akan nampak sebagai ejekan yang langsung menikam jiwa kita. Kita menjadi
manusia yang praktis lumpuh dan gagal untuk punya arti lagi di dunia
ini. Mengapakah semua itu terjadi? Mengapakah? Nasib Nietzhe pun pada
akhirnya berakhir secara tragis di sebuah rumah sakit jiwa setelah
menyatakan bahwa Tuhan sudah mati.
Sebagai manusia, kehidupan kita amat saling bergantung dan
berhubungan satu dengan yang lain. Sebagai manusia, kita hidup dengan
segala sesuatu yang ada di luar kita. Namun, pada dasarnya, kita ini
tetap sendirian dengan perasaan kita masing-masing. Pemikiran-pemikiran
kita dan perasaan-perasaan kita saling terkait tetapi sering tidak
berhubungan. Inilah paradoks hidup. Tak seorang pun yang mampu menembus
dinding perasaan yang kita pasang untuk menabiri perbuatan kita. Tak
seorang pun. Apa yang kita rasakan, jauh tersembunyi dalam hati kita.
Tangisan yang ada di dalamnya, rasa sakit, perih dan dendam mengendap
jauh, tersembunyi dari senyuman di wajah kita. Perasaan kita bisa jadi
suatu yang amat misterius dan hanya kita sendiri yang mampu
merasakannya. Terkadang, bahkan kita sendiri gagal untuk menyadarinya.
Kita tak mampu untuk mengendalikan jiwa kita sendiri. Dan sayangnya, hal
demikian tak jarang terjadi.
“Jangan takut, percaya saja” demikian suatu ketika Yesus berkata
kepada Yairus saat orang-orang memberitakan kematian putrinya. Dan
memang, putrinya itu pada akhirnya sembuh kembali. Jangan takut, percaya
saja. Pernahkah kita berdiri di sisi Tuhan dengan keyakinan itu?
Pernahkah kita berkata kepada dunia, bahwa kita tidak pernah merasa
takut untuk hidup karena kita percaya pada kata-kataNya? Pernahkah kita
dengan keyakinan yang sama menerima dan menghadapi segala penderitaan,
kekerasan, pengkhianatan, pemerkosaan, dan saat kita difitnah oleh
dunia? Pernahkah kita percaya dalam saat kita merasa bahwa kita telah
ditinggalkan, dihempaskan, sendirian dan merasa tak berdaya dan gagal
dalam mencapai apa yang ingin kita inginkan? Pernahkah kita berseru
bahwa kita berani untuk hidup karena kita percaya padaNya. Ya, jika kita
merasa berani untuk mati demi Tuhan, mengapa kita takut untuk hidup?
Hidup atau mati, semua itu milik Tuhan. Dan dengan keyakinan kita pada
Sang Pencipta, mengapa kita takut untuk hidup? Mengapa kita perlu merasa
gagal dan tak berdaya? Mengapa kita harus takut menghadapi semua
penderitaan dan tuduhan-tuduhan dunia? Mengapa? Bukankah itu berarti
bahwa kita ternyata gagal untuk percaya kepadaNya?
“Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan
memberi kelegaan kepadamu” Marilah kita yang merasa tanpa arti dan guna
lagi, untuk tidak perlu merasa takut dan tetap percaya bahwa di dalam
kesementaraan hidup di dunia ini, kita takkan pernah akan ditinggalkan
oleh Tuhan, walau sering kita merasakan demikian. Karena, bahkan Yesus
pun merasakan hal yang sama, ditinggalkan oleh BapaNya sehingga Dia
berseru,” Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” saat
tergantung di tiang salibNya. Ya, kita sebagai manusia, memiliki banyak
kesalahan dan kelemahan namun jangan takut, percaya saja. Dengan
demikian, segala rasa duka, nyeri, sakit hati dan sesal akan menjadi
tidak berarti lagi karena kita tahu bahwa suatu hari kelak, saat
waktunya tiba, kita mampu berdiri di depan Dia sambil berkata, “Aku
tidak takut Tuhan, karena aku percaya kepadamu”. Dunia, apalah artinya
di depan Dia yang menciptakannya? Bukankah begitu, temanku?