Senin, 04 Februari 2013

BERSYUKUR bersyukur pada saat tidak ada harapan (Hopeless)

BERSYUKUR #2 bersyukur pada saat tidak ada harapan (Hopeless)

Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang mengalami seperti tema ini. Ia merasa tidak ada jalan keluar, tidak ada pintu lagi. Ia merasa pada saat mengalami hopeles merasa seperti Tuhan pun tidak dapat menolong, mustahil, perlu muzijat dll. Pada saat seperti ini orang sangat sulit untuk bersyukur, padahal mungkin hopeles itu hanya satu bagian saja dan banyak berkat yang lain yang Tuhan berikan, tetapi sering kali ia tidak merasakan hal itu. Misalnya orang yang mengalami penyakit menahun merasa bahwa tidak akan sembuh lagi, orang yang mengalami banyak kegagalan merasa seperti tidak ada jalan keluar untuk dirinya, dll.
Pertanyaannya DIMANAKAH TUHAN SAAT MENGALAMI KONDISI INI?
Bersyukur, sama artinya dengan berterima kasih. Sesuatu pernyataan atau tindakan yang melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dari orang lain ataupun dari Allah. Bersyukur merupakan suatu ucapan terima kasih atas pertolongan-Nya. Bersyukur merupakan ungkapan yang wajar dari seseorang kepada Allah sebagai respons atas kasih-Nya, pertolongan-Nya, perlindungan-Nya dan pemeliharaan-Nya.
Bagi umat Allah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, ucapan syukur bukanlah sarana untuk menyanjung dan memanipulasi Allah demi memenuhi keinginan manusia, bukan pula sikap yang dipaksakan atau dibuat-buat, melainkan sebuah spontanitas dan penyembahan yang penuh hormat, sukacita dan komitmen kepada pribadi Allah. Ezra adalah salah satu dari orang-orang Israel yang dibuang di Babel.  Ia mengalami hopeless, dan ia tahu ada saatnya di mana Tuhan sanggup mengangkat dan memulihkan,  “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”  (Amsal 23:18).
Tidak ada harapan/hopeless sama dengan orang yang dalam keadaan putus asa, stress/depresi, kekesalan, pesimisme, kesedihan diri, menyerah. Hopeless adalah kondisi dimana seseorang merasa tidak ada harapan lagi dalam situasi yang ia alami. Seringkali kondisi ini kemudian membuat seseorang menjadi takut, bingung, dan akhirnya jika tidak tertangani seseorang dapat mengalami stress berulang. Orang-orang yang pernah mengalami masa-masa kekurangan dalam hidup mereka memiliki kecenderungan untuk ‘terjatuh’ pada kondisi hopeless. Orang yang sedang mengalami penyakit menahun sering kali merasa hopeless. Mereka merasa tidak ada jalan keluar dari apa yang dialami sehingga seringkali orang cenderung mengalami ketakutan atau kenekatan. Orang yang memiliki reaksi ketakutan dapat terjadi karena inferior, Tuhan tidak akan menolong/bertindak. Lalu orang yang nekat juga merasa bahwa Allah juga akan tetap mengabaikannya. Sering kali orang yang hopeless memiliki hubungan yang buruk dengan Tuhan, identitas diri dan kasih karunia. Kita tidak pernah bisa mengatur situasi kehidupan kita, ada hal-hal yang menyenangkan dan mudah dilalui, namun ada pula yang sulit, terkadang silih berganti dialami. Pertanyaannya, bagaimana reaksi kita saat kita mengalami kondisi ‘hopeless?’ Apakah kita melaluinya dengan cara-cara yang sikap hati yang benar?
Kalau kita lihat secara arti harafiahnya maka ada perbedaan antara sikap Bersyukur dan sikap Hopeless.

Beberapa perbedaan tersebut adalah:

  • Bersyukur Mengakui Allah menolong vs Hopeless, Tidak mengakui pertolongan Allah
  • Bersyukur untuk hal yg belum terlihat vs Hopeless, ingin melihat bukti nyata
  • Bersyukur melihat ada jalan vs Hopeless, semua pintu tertutup
  • Bersyukur, bangga kepada kasih karunia vs Hopeless, tidak mengakui kasih karunia
  • Bersyukur, melihat dirinya dg benar vs Hopeless, melihat dirinya salah, rusak
Alasan untuk tetap Bersyukur pada saat hopeless
Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, Psalm 107:1
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Apapun situasi dan kondisi Alkitab mendorong kita untuk tetap mengucap syukur. Walaupun ada perbedaan dalam sikap seseorang ketika bersyukur dan sikap orang yang hopeless, tetapi semua kembali kepada pilihan dan sikap hati kita.

  • Bersyukurlah ketika tidak ada jalan karena Allah yang akan memberikan jalan keluar, 1 Corinthians 10:13
    Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
  • Bersyukurlah ketika masa depan sepertinya suram, karena Tuhan memberikan jalan keluar untuk masa depan. Proverbs 23:18
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.
  • Bersyukur pada waktu mengalami kegagalan-kegagalan karena Tuhan memiliki cara dan rencana yang tepat. Romans 8:28
    Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Hal yang menghalangi bersyukur dalam siatuasi ini

  • Tidak melihat Allah yang memiliki kedaulatan; Semua yang ada dalam tangan dan kendali Tuhan. Effesus 1:11-12
    Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya 12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.
  • Lebih memandang yang negatif dari pada yang positif, ada kecenderungan orang yang tidak punya harapan hanya melihat negatifnya dari sikap, situasi, tindakan dan bahkan harapan kepada seseorang dan Tuhan. Psalm 42:5
    Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
  • Melihat situasi atau keadaan hanya saat ini, tanpa mau melihat hari-hari kedepan sehingga yang muncul adalah omelan, pergumulan dan sulit untuk bersyukur
  • Merasa tidak puas atas keadaan, setiap kita yang mendapatkan ketidakadilan pasti tidak puas atas peristiwa itu. Sering kali kita akan menuntut balik atas perilaku, keputusan, konsekuensi atas tindakannya. Jadi bersyukur pada situasi seperti ini perlu kehendak yang besar.
Kapan seharusnya bersyukur

  • Ketika tahu seperti tidak ada jalan keluar
  • Ketika tahu perlu mujizat dan pertolongan Tuhan walaupun sepertinya mustahil.
  • Ketika merasa sedang putus asa
  • Ketika merasa ada tekanan besar stress dan depresi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar