Senin, 04 Februari 2013

Pelajaran dari benang ruwet

benangkusut1 300x244 Pelajaran dari benang ruwet

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku
sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke
atas dan bertanya, apa yang ia lakukan.
Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu diatas sehelai kain. Tetapi
aku memberitahu kepadanya, bahwa yang aku lihat dari bawah adalah benang ruwet.

Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, “Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, engkau akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas”.
Aku heran mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih begitu semrawut
menurut pandanganku.
Beberapa saat kemudian aku mendengar suara ibu memanggil, “Anakku, mari kesini dan duduklah di pangkuan ibu”.
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan
matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku
lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata, “Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas engkau dapat melihat keindahan dari apa yang ibu
lakukan”.
Sering selama bertahun-tahun, kita melihat ke atas dan bertanya kepada Allah Bapa, “Bapa, apa yang Engkau lakukan?”.
..~Benang yang Ruwet~..
Ia menjawab, “Aku sedang menyulam kehidupanmu” . Dan aku membantah, “Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?”. Kemudian Bapa menjawab, “Anakku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini, satu saat nanti aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu”.
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. (Yer 29 : 11)

JANGAN TAKUT, PERCAYA SAJA

Pernahkah anda berpikir untuk apa hidup ini? Pernahkah anda merasa kesal pada kehidupan ini? Pernahkah anda merenungkan, dan bertanya dalam hati, serta menyesali keberadaan anda di dunia ini? Pernahkah anda berpikir untuk lebih baik mengakhiri saja semua ini? Karena segala sesuatu nampak sia-sia. Segala sesuatu nampak tak punya arti. Dan segala sesuatu nampak hanya mengarah kepada kegagalan, penderitaan dan sakit hati saja. Ya, kita semua sekali waktu pernah merasa sia-sia, gagal dan tak punya arti apa-apa di tengah kehidupan yang demikian penuh gejolak ini. Kita terpencil jauh di dalam hari-hari yang terasa kian memanjang dan tanpa ujung ini.

Kita menangis di tengah tawa ria lingkungan. Kita tersudut sendiri dan tersisih di tengah keramaian dan kecemerlangan dunia yang hiruk pikuk. Kita tersiksa oleh rasa sakit hati, dendam, rasa pahit, perih dan ketakberdayaan menghadapi dan menerima segala dakwaan, kutuk dan pandangan lingkungan kita. Kita bahkan merasa kehilangan diri kita sendiri saat kita ingin menyadari keberadaan kita. Kita merasa tak punya arti apa-apa lagi. Kita kehilangan diri kita. Bahkan untuk menangis pun kita tak punya tenaga lagi. Hanya rasa hampa tetapi penuh kemarahan yang memenuhi hati dan jiwa kita saja. Kita pasrah walau ingin melawan. Kita gagal dan tak mampu bangkit lagi. Kita pasrah dan mau semuanya ini segera berakhir. Ah, pernahkah anda mengalami semua ini, temanku?

Suatu ketika, Nietzhe mengatakan bahwa, “Dia yang mengetahui untuk apa dia hidup, akan sanggup mengatasi hampir semua yang terjadi atas dirinya”. Maka saat kita kehilangan diri kita, saat kita tidak tahu untuk apa lagi kita hidup, saat kita merasa tidak lagi berguna, kita pun tak lagi mampu untuk menghadapi kehidupan ini. Kita tidak sanggup lagi untuk tertawa dan merasa bahagia. Segala canda tawa dari seputar kita akan nampak sebagai ejekan yang langsung menikam jiwa kita. Kita menjadi manusia yang praktis lumpuh dan gagal untuk punya arti lagi di dunia ini. Mengapakah semua itu terjadi? Mengapakah? Nasib Nietzhe pun pada akhirnya berakhir secara tragis di sebuah rumah sakit jiwa setelah menyatakan bahwa Tuhan sudah mati.

Sebagai manusia, kehidupan kita amat saling bergantung dan berhubungan satu dengan yang lain. Sebagai manusia, kita hidup dengan segala sesuatu yang ada di luar kita. Namun, pada dasarnya, kita ini tetap sendirian dengan perasaan kita masing-masing. Pemikiran-pemikiran kita dan perasaan-perasaan kita saling terkait tetapi sering tidak berhubungan. Inilah paradoks hidup. Tak seorang pun yang mampu menembus dinding perasaan yang kita pasang untuk menabiri perbuatan kita. Tak seorang pun. Apa yang kita rasakan, jauh tersembunyi dalam hati kita. Tangisan yang ada di dalamnya, rasa sakit, perih dan dendam mengendap jauh, tersembunyi dari senyuman di wajah kita. Perasaan kita bisa jadi suatu yang amat misterius dan hanya kita sendiri yang mampu merasakannya. Terkadang, bahkan kita sendiri gagal untuk menyadarinya. Kita tak mampu untuk mengendalikan jiwa kita sendiri. Dan sayangnya, hal demikian tak jarang terjadi.

“Jangan takut, percaya saja” demikian suatu ketika Yesus berkata kepada Yairus saat orang-orang memberitakan kematian putrinya. Dan memang, putrinya itu pada akhirnya sembuh kembali. Jangan takut, percaya saja. Pernahkah kita berdiri di sisi Tuhan dengan keyakinan itu? Pernahkah kita berkata kepada dunia, bahwa kita tidak pernah merasa takut untuk hidup karena kita percaya pada kata-kataNya? Pernahkah kita dengan keyakinan yang sama menerima dan menghadapi segala penderitaan, kekerasan, pengkhianatan, pemerkosaan, dan saat kita difitnah oleh dunia? Pernahkah kita percaya dalam saat kita merasa bahwa kita telah ditinggalkan, dihempaskan, sendirian dan merasa tak berdaya dan gagal dalam mencapai apa yang ingin kita inginkan? Pernahkah kita berseru bahwa kita berani untuk hidup karena kita percaya padaNya. Ya, jika kita merasa berani untuk mati demi Tuhan, mengapa kita takut untuk hidup? Hidup atau mati, semua itu milik Tuhan. Dan dengan keyakinan kita pada Sang Pencipta, mengapa kita takut untuk hidup? Mengapa kita perlu merasa gagal dan tak berdaya? Mengapa kita harus takut menghadapi semua penderitaan dan tuduhan-tuduhan dunia? Mengapa? Bukankah itu berarti bahwa kita ternyata gagal untuk percaya kepadaNya?

“Marilah kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” Marilah kita yang merasa tanpa arti dan guna lagi, untuk tidak perlu merasa takut dan tetap percaya bahwa di dalam kesementaraan hidup di dunia ini, kita takkan pernah akan ditinggalkan oleh Tuhan, walau sering kita merasakan demikian. Karena, bahkan Yesus pun merasakan hal yang sama, ditinggalkan oleh BapaNya sehingga Dia berseru,” Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” saat tergantung di tiang salibNya. Ya, kita sebagai manusia, memiliki banyak kesalahan dan kelemahan namun jangan takut, percaya saja. Dengan demikian, segala rasa duka, nyeri, sakit hati dan sesal akan menjadi tidak berarti lagi karena kita tahu bahwa suatu hari kelak, saat waktunya tiba, kita mampu berdiri di depan Dia sambil berkata, “Aku tidak takut Tuhan, karena aku percaya kepadamu”. Dunia, apalah artinya di depan Dia yang menciptakannya? Bukankah begitu, temanku?

Patah Hati

"Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;"

Bagi teman-teman yang pernah merasakan patah hati tentu tahu betapa sakit rasanya. Saya bertemu dengan banyak orang yang mengalami hal ini dan sulit sembuh untuk waktu yang cukup lama. Saya sendiri pernah mengalaminya sehingga tahu bagaimana rasanya. Tidak gampang untuk menghadapi kenyataan berakhirnya sebuah hubungan cinta yang mungkin sudah terjalin sekian lama. Ada banyak kenangan indah di masa lalu yang akhirnya harus berakhir. Ada banyak harapan dan impian yang terpaksa harus kandas di tengah jalan. Jika putus baik-baik saja sudah sakit, apalagi jika sebuah hubungan itu berakhir dengan tidak baik. Rasa patah hati akan ditambah pula dengan rasa sakit hati pun mungkin bisa menetap di dalam diri kita, menorehkan luka hingga waktu yang lama. Tidak jarang pula hal ini membuat harga diri yang mengalaminya terhempas hancur dalam sekejap mata.  Luka-luka yang timbul dari patah hati akibat putusnya hubungan cinta memang sangat menyiksa dan tidak akan mudah dilupakan. Beberapa dari yang saya kenal kemudian sulit untuk memulai hubungan lagi dan hidup diliputi kesedihan dan kekecewaan bertahun-tahun, bahkan ada yang sampaia puluhan tahun. Ada yang memilih lari kepada obat-obatan untuk mengurangi keperihan akibat lukanya. Ada pula yang tidak tahan lagi terhadap rasa sakit dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Jika anda sedang mengalami patah hati hari ini, jangan bertindak gegabah dengan melakukan sesuatu yang nantinya akan anda sesali. Renungan hari ini mudah-mudahan bisa menguatkan anda.

Ayat bacaan hari ini berbicara secara spesifik akan hal itu. "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." (Mazmur 147:3). Tidakkah sangat melegakan bagi kita jika mengetahui bahwa Tuhan tahu persis bagaimana rasa sakit yang ditimbulkan dari patah hati? Bukan sekedar tahu bahwa itu sakit sekali, Tuhan bahkan berjanji untuk menyembuhkan dan membalut luka-luka ini secara langsung dengan tanganNya sendiri. Minimal sekarang kita tahu bahwa kita tidak sendirian untuk menghadapinya. Tuhan siap membantu dan merawat anda hingga pulih seperti sediakala. Jadi ketika mengalami patah hati, setidaknya kita tahu bahwa disana kita akan mengalami langsung bagaimana Tuhan merawat dan menyembuhkan kita. Dia siap untuk melakukan itu bagi anak-anakNya yang mau mengandalkannya dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan seperti itu.

Dalam keadaan seperti apapun sesungguhnya kita harus tahu bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita. Dalam hidup ini akan selalu saja ada tekanan-tekanan dan rasa sakit. Jika tidak kita sikapi dengan baik, itu bisa meruntuhkan kita dalam sekejap mata, setiap saat. Tapi kabar baiknya, Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita menjalani itu semua sendirian. Rasa sakit memang pasti akan kita alami, namun dengan pertolongan Tuhan kita pasti akan diteguhkan dan kembali pulih seperti sedia kala. Firman Tuhan berkata: "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:10). Kita tidak perlu bimbang apalagi takut.

Dalam kesempatan lain firman Tuhan berbunyi: "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Tuhan telah berjanji berulang-ulang bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian di tengah kecamuk perasaan dan kehancuran hati. Dia siap untuk hadir dan memberikan pertolongan, membalut luka kita dan menjagai kita hingga sembuh.

Apabila di antara teman-teman ada yang mengalami rasa sakit yang begitu dalam akibat patah hati hari ini, janganlah tergoda untuk melakukan tindakan gegabah yang bisa menghancurkan hidup menuju kebinasaan. Sebaliknya, datanglah kepada Tuhan dengan membawa hati kita yang tengah terkoyak-koyak parah dengan luka perih. Curahkan semua perasaan anda di hadapanNya, dan mintalah pertolonganNya, maka Tuhan sendiri yang akan membalut luka-luka itu satu persatu dan dengan penuh kasih sayang merawat kita hingga sembuh. Dari pengalaman saya sendiri, meski itu sakit sekali rasanya, saya sudah merasakan langsung bahwa pada saatnya Tuhan benar-benar memulihkan diri saya, tepat seperti perkataanNya. Jika ini berlaku buat saya, mengapa tidak buat anda? Satu sisi positif yang saya dapat sebagai pelajaran adalah, justru di saat sakit seperti itulah saya bisa mengalami langsung bagaimana luar biasanya kuasa Tuhan dalam menyembuhkan kita dari luka parah akibat patah hati ini. Sekarang juga, datanglah kehadapanNya dan bawa hati kita yang tengah luka dan hancur, dan alamilah secara langsung bagaimana luar biasanya Tuhan menyembuhkan luka anda dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang anda kira.

Tuhan peduli dan selalu siap menyembuhkan luka-luka yang timbul akibat patah hati

JANGAN BANGKITKAN SAKIT HATI TUHAN!

"Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami."  Mazmur 85:5

Saudara pernah mengalami sakit hati?  Tentu jawabannya  "ya"  ketika dikhianati oleh teman dekat, ditinggalkan oleh orang yang dicintai, ditipu kolega dan sebagainya.  Tetapi orang yang menyimpan sakit hati pasti tidak bisa tidur nyenyak, makan pun terasa tidak enak, bahkan segala aktivitas yang kita lakukan pasti terasa tidak comfortable.  Mungkin telinga kita telah sangat familiar dengan lagu dangdut yang didendangkan oleh almarhum Meggy Z., di mana ada liriknya yang mengatakan,  "Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati."  Saudara lebih memilih sakit gigi atau sakit hati?  Siapa pun kita pasti tidak akan memilih kedua-duanya.  Bagaimana kalau yang merasakan sakit hati ini adalah Tuhan?

     Mengapa Tuhan sampai sakit hati?  Ini semua karena ulah bangsa Israel, bangsa yang sangat dikasihi Tuhan telah mengenyam kebaikan Tuhan tapi mengkhianatiNya dengan melakukan penyembahan berhala dan berpaling kepada ilah-ilah lain.  Itulah sebabnya Daud berdoa memohon pengampunan kepada Tuhan,  "Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun?"  (Mazmur 85:6).  Di dalam Alkitab dinyatakan bahwa jika orang melakukan penyembahan berhala dan tidak bertobat dari kelakuannya, Tuhan akan menghukum keturunannya sampai kepada keturunan yang ketiga.  Tertulis:  "Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,"  (Keluaran 20:5).  Tetapi jika anak atau cucumu bertobat, maka kutuk yang ditimpakan kepada mereka akan terputus.  Sakit hatinya Tuhan jangan samakan dengan sakit hati kita.  Sakit hati Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang sangat membenci dosa dan segala bentuk kenajisan.

     Masih adakah berhala dalam hidup kita?  Berhala tidak harus dalam wujud patung atau sesembahan;  segala sesuatu yang membuat hari kita berpaling dari Tuhan adalah berhala.  Bisa berupa hobi, uang (harta), pekerjaan, suami, isteri, anak dan sebagainya.  Jangan bangkitkan sakit hati Tuhan!

"Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena Tuhan, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu."  Keluaran 34:14

Kesembuhan KASIH KARUNIA

Kita sering terjebak dengan sebuah lingkaran “perbuatan”. Apa yang kita lakukan dan usahakan tetapi tidak pernah cukup, tidak pernah puas bahkan cenderung tidak pernah yakin. Betul tidak ya?
Yakin tidak ya?
Orang sering tertipu, apabila memandang setiap hubungan di dalam kehidupan ini didasarkan perbuatan:
-    Keselamatan dan statuka  – hubungan kita dengan Allah
-    Harga diri – hubungan kita dengan diri sendiri
-    Rasa aman dan rasa memiliki – hubungan kita dengan orang lain
-    Prestasi dan keberhasilan – hubungan kita dengan masyarakat
Contoh jemaat Galatia (Gal 4:4-7)
Perbedaan Hamba dan Anak
Hamba
-    Diterima dan dihargai atas dasar apa yang dilakukan
-    Memulai pekerjaan dengan perasaan kuatir dan cemas
-    Diterima karena pekerjaannya.
-    Diterima karena produktifitasnya dan perbuatan
-    Ia akan aman apabila telah membuktikan kemampuannya melalui pekerjaan, besok memulai dengan cemas dan seterusnya
-    Jika hamba gagal, pekerjaan menjadi taruhan dan mungkin akan kehilangan pekerjaan, kepercayaan tuannya atau di pecat
Seorang Anak
-    Statuka
-    Bersandar pada kasih saying dan rasa aman sebagai seorang keluarga
-    Diterima karena hubungan keluarga
-    Kedudukannya sebagai pribadi
-    seorang anak akan aman sepanjang hari
-    jika seorang anak gagal , ia akan berduka karena menyakiti hari orang tuanya dan akan sikapnya akan diperbaiki dan didisiplin ia tidak takut dibuang, keyakinan yang mendasar adalah pada perasaan dimiliki dna dikasihi dan perbuatannya tidak mengubah kestabilan posisinya.
Penyebab utama dari masalah emosi/rohani yang paling mengganggu orang Kristen ialah kegagalan menerima dan menjalani Kasih Karunia Allah.
Kehidupan Kristen yang didasarkan atas perbuatan-perbuatan dan tingkah laku kita berasal dari kesombongan diri.
Mengapa?
Kesombongan membangun kehidupan seseorang berdasarkan kebohongan-kebohongan. Kebohongan terjadi apabila segala sesuatu tergantung kepada  apa yang kita lakukan dan seberapa baik kita melakukan pada usaha dan perbuatan kita. Bahaya dari kesombongan ini akan meluas ke setiap segi kehidupan dan menentukan terhadap hubungan-hubungan kita kepada Allah dalam hal keselamatan. Hubungan kepada diri sendiri dalam aspek harga diri dan hubungan kita dengan orang lain dimana ada rasa aman, kepuasan dan kesuksesan.
David Seamand menyimpulkan Kesombongan berlawanan dengan Kasih karunia. Tiga Penghambat Kasih karunia
  • Bergantung pada diri sendiri (seberapa banyak kita berdoa, membaca FA bekerja dna bersaksi). Kasih karunia bebas untuk meminta kasih karunia bergantung pada Allah. Allah kita adalah sumber kasih karunia (1 John 4:16   16 Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih,  dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia) (1 John 4:8  8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih ——- implikasinya: Apabila seseorang tidak mendasarkan kehidupannya dalam kasih karunia Allah, dapat dikatakan ia tidak hidup dengan Allah.
  • Individualisme , Kasih karunia diterima melalui hubungan dengan Allah. Tidak ada orang Kristen berjuang sendiri. “tanpa Aku, engkau tidak dapat berbuat apa-apa”.
  • Akttivisme, Anda akan dapat melakukan/menjadi/memperoleh apa saja yang benar-benar anda inginkan jika anda bekerja cukup keras. Kita harus menjadi pelaku (Yak 1:22) semua perbuatan baik diperintahkan kepada kita, namun tidak pernah sebagai suatu cara untuk memenangkan atau mendapatkan persetujuan Allah.
Dari point  diatas :
  • Apakah anda menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan anda hidup dalam kasih karunia atau tidak?
  • Mengerti dan merasakan Kasih karunia akan mengubah nilai, pola pikir seseorang terhadap Allah, diri sendiri dan orang lain. Apakah itu anda dapat rasakan?
  • Seberapa penting kasih karunia dalam kehidupan orang percaya?
Secara fakta, seringkali terdapat salah persepsi, yaitu:
  • Orang cenderung melihat kasih karunia saat keselamatan saja, berpikir bahwa kasih karunia baru dimulai saat keselamatan—- faktanya: kasih karunia Allah sudah ada bahkan sejak dunia belum dijadikan
  • Banyak orang cenderung memandang bahwa setelah keselamatan tidak ada kasih karunia —- faktanya: kasih karunia menjadi dasar hidup orang percaya sampai pada akhirnya.
  • Kasih karunia hanya untuk orang yang mengenal Yesus —- faktanya: kasih karunia Allah disediakan untuk setiap orang. Yang membedakan adalah bahwa orang yang percaya Allah dengan benar pastilah akan menghidupinya dengan cara yang benar
Kesimpulan:
Saat orang tidak hidup dalam kasih karunia Allah, maka akan timbul kerusakan hubungan dengan :
-    Allah — inilah mengapa orang memerlukan kasih karunia dari Allah
-    Diri sendiri — orang akan mengalami keruskan identitas
-    Orang lain —- muncul penghakiman, penipuan, kepahitan

Pengampunan

Kepahitan sering terletak di balik ketidaksanggupan kita untuk
mengampuni dan diampuni.

Pengampunan tidak membutuhkan suatu keahlian tertentu, tetapi pengampunan hanya memerlukan kehendak kita. Ya, kehendak untuk mau mengampuni orang yang sudah melukai kita.
Mengapa kita perlu mengampuni?
Pertama, karena pengampunan adalah perintah Allah. “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:14,15) . Jika kita tidak mengampuni orang lain, maka kita berdosa terhadap Allah (Kolose
3:13)
Kedua, pengampunan dilakukan untuk menghindari jerat si setan. Jika kita tidak mengampuni, maka kita memberikan kesempatan kepada Iblis untuk merusak – bahkan menghancurkan – kehidupan, persekutuan dan pelayanan kita (Efesus 4:26-27). Apabila kita tidak dapat mengampuni ini berarti sebuah undangan terbuka kepada Iblis.
Ketiga, kita mengampuni karena Kristus telah mengampuni kita sehingga kita tidak lagi berada dalam luka batin, kepahitan. Jika kita tidak mengampuni orang lain, maka kita tidak memahami keagungan pengampunan yang telah diberikan kepada kita dalam Kristus Yesus (Matius 18:21-35). Paulus menulis, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:31,32).
Ketidakmampuan mengampuni menjadikan kepahitan, hal ini bukan hanya berdampak pada jiwa melainkan berdampak pada hubungan dengan Allah dan pertumbuhan rohani.
Hasil pengampunan membuat kita dibebaskan dari kemarahan, kebencian, kepahitan, dan keinginan untuk membalas dendam.

RASA MALU Bebas dari Aib Dalam keluarga

 

Rasa malu adalah suatu perasaan yang berasal dari emosi negative dalam diri seseorang. Rasa malu muncul pertama kali ketika manusia jatuh dalam dosa. Bandingkan rasa malu manusia pertama di Kej 2:25 dg Kej. 3:7-8, disitulah terletak bahwa manusia memiliki rasa malu karena keadaannya. Genesis 2:25 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. Genesis 3:7-8  7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. 8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Rasa malu disini dimulai dari cara memandang sesuatu dan membandingkan dengan keadaan sekitar atau situasi sebelumnya.
Rasa malu dalam KAMUS BESAR
berarti :
  • Perasaan tidak enak karena dianggap hina atau dianggap rendah ditengah-tengah orang lain yang memiliki standar, prinsip, nilai-nilai, etika dan moral. Misal : orang merasa malu karena karena ada anggota keluarga yang memiliki penyakit kelainan jiwa karena dianggap ada keluarga yang tidka normal.
  • Perasaan yang muncul karena melakukan sesuatu perbuatan yg dianggap kurang baik, kurang benar, berbeda dengan kebiasaan atau mempunyai cacat atau kekurangan berdasarkan nilai-nilai di lingkungan. Misalnya : Malu karena ada anggota keluarga yang masuk penjara karena mencuri atau korupsi.
  • Seseorang yang segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat terhadap orang lain. Misalnya seseorang yang merasa tidak mampu berbicara didepan orang lain karena dari kaluarga yang udik atau rendah.
  • Sumber-sumber Rasa malu (Aib) Dalam Keluarga
  1. Faktor Keturunan
  • Rasa malu yang diturunkan atau diwariskan
    Banyak orang tua yang malu dengan kondisi dalam keluarga yang secara tidak sadar diwariskan kepada anak-anaknya. Orang tua yang memiliki perasaan tidak berharga. Perasaan yang merasa bahwa dirinya bukanlah seseorang yang berhak merasa bangga. Bahkan mungkin merasa diri ini hina, kotor dan tidak layak sehingga anak-anaknyapun memiliki perasaan yang sama seperti yang dirasakan orang tuanya.
  • Rasa malu yang diajarkan

    Ada orang tua yang mengajarkan kepada anak-anaknya tentang aib yang terjadi dalam keluarga supaya tidak diceritakan kepada orang lain dan mengajarkan rasa malu itu kepada anak-anaknya. Hal itu dapat terjadi dengan cara tidak membicarakan apa yang terjadi dalam kehidupan keluarganya kepada orang lain. Kita diajar untuk malu saat kita gagal memenuhi standar atau harapan orang tua, standar berpenampilan, standar berprestasi dan finansial.
  1. Disfungsi Keluarga
    Disfungsi dan rasa malu dapat menjadi akar dan buah. Menjadi akar masalah dimana keluarga yang disfungsi membuat anggota keluarganya menjadi malu yang pada akhirnya memunculkan rasa malu – begitu sebaliknya, rasa malu adanya aib membuat anggota keluarga menjadi disfungsi.
  • Contoh Disfungsi memunculkan rasa malu : ada seorang ayah yang alkoholik dan depresi, ia tidak dapat berperan sebagai ayah yang benar. Dari ketidakfungsian suami maka istrinya akan menjadi pekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dari ketidakfungsian ayah ada anak-anaknya yang harus bekerja walaupun belum cukup umur guna kecukupan keluarga. Sehingga antara ibu dan anaknya menutupi kebiasaan suami/ayah nya.
  • Contoh Rasa malu membuat disfungsi : perceraian dalam keluarga membuat anak-anaknya bertumbuh lebih cepat. Anak-anak yang seharusnya masih membutuhkan perlindungan orang tuanya terpaksa malah harus melindungi orang tuanya. Misalnya ada anak sulung yang masih usia 15 tahun tetapi kerena orang tuanya bercerai ia menjadi tempat curhat ibunya dan sekaligus harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
  1. Faktor Traumatis-luka
    Ada pengalaman-pengalaman yang menyakitkan dan membekas yang membuat seseorang memiliki rasa malu. Misalnya pengalaman tidak naik kelas dan muncul rasa malu karena dianggap bodoh.
  • Hal-hal di masyarakat yang seringkali dianggap aib dalam keluarga
    Setiap budaya dan adat istiadat memiliki tatanan nilai dan moral yang berbeda-beda dalam memandang aib. Jadi aib seseorang tidak dapat digeneralisasi secara luas budaya satu dengan yang lain berbeda. Beberapa nilai yang sering dianggap aib oleh masyarakat adalah:
  1. Perceraian- menjadi single parent kadang-kadang dianggap aib dalam keluarga
    Ada perasaan malu memiliki orang tua yang mengalami perceraian. Perasaan malu anak-anak ketika ditanya tentang status orang tua, keberadaan/keadaan orang tua. Misalnya gimana ayahmu, dimana ibumu? Banyak anak menjawab baik-baik saja.
  2. Incest, hubungan perkawinan sedarah.
  3. Anggota keluarga yang berjudi, alkoholik, narkoba-kecanduan
  4. Anak tidak naik kelas
  5. Ada anggota keluarga yang mengalami sakit psikis atau cacat mental (ada anggota keluarga yang gila, depresi, autis, lumpuh)
  6. Anggota keluarga yang bunuh diri
  7. Anggota keluarga yang memiliki penyakit menahun (stroke, kusta)
  8. Ada kawin cerai dalam keluarga
  9. Hamil di luar pernikahan
  10. Terlilit Hutang
  11. Ada anggota keluarga yang bekerja tidak halal, sebagai contoh menjadi PSK, calo, jambret atau rampok
  12. Anggota keluarga yang masuk penjara.
  13. Konflik dan pertengkaran dalam keluarga
  • Reaksi Negatif Akibat Adanya Aib dalam keluarga
    Setiap orang memiliki mekanisme yang salah untuk memiliki rasa aman dan nyaman terbebas dari rasa malu akibat adanya aib dalam keluarga.
  1. Menutupi
    Ada orang yang menghindari pertemuan dengan masyarakat/tetangga karena takut orang lain tahu realitas kehidupan di rumahnya. Anggota keluarga yang menjadi menutup diri karena kejadian tersebut sehingga menghindari persahabatan dan pertemuan dengan orang lain. Cara yang lain, ada banyak alasan supaya orang lain tidak main/berkunjung kerumahnya.
  2. Mengabaikan
    Setiap masalah diabaikan seolah-olah seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sehingga orang tersebut mengabaikan perasaan-perasaannya. Dia menjadi cuek dengan keadaan dalam rumah/keluarganya sehingga menjadi tidak empati dan care dengan orang lain dalam keluarga.
  3. Melarikan diri
    Hal ini bisa menjadi pola yang sama ketika aib yang dialami keluarga berhubungan dengan kecanduan dan orang untuk terbebas dari rasa malu lari kepada perilaku-perilaku kecanduan.
  4. Menyalahkan pihak lain
    Supaya tetap tianggap baik, maka cara yang dilakukan harus ada pihak lain yang disalahkan baik orang lain atau bahkan Tuhan.
  5. Membenarkan diri
    Ketika tidak orang lain yang disalahkan maka cara terbebas dari rasa malu dalam keluarga adalah membenarkan diri.
  • Prinsip Firman Tuhan tentang Rasa Malu dan Aib
    • Tuhan menghapuskan rasa malu
      Isaiah 25:8 a akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapuskan air mata dari pada segala muka; dan aib umat-Nya akan dijauhkan-Nya dari seluruh bumi, sebab TUHAN telah mengatakannya.
    • Membebaskan perasaan dan pelanggaran orang lain
      Proverbs 17:9
      9 Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangki perkara, menceraikan sahabat yang karib.

    • Menyerahkan perasaan malu kepada Tuhan
      Psalm 37:5
      5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

      Psalm 55:22 Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.
    • Kasih menutupi rasa malu
      1 Peter 4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
    • Jeremiah 11:20 Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.
  • Langkah-langkah Mengatasi Aib dalam keluarga
    • Bersikaplah apa adanya, tidak perlu berusaha menutup-nutupi keadaan orang lain.
    • Apabila ada hal-hal yang tidak sesuai lingkungan sekitar, aturan masyarakat bicarakanlah sebagai satu bagian membangun komunikasi dalam keluarga
    • Akui dihadapan Allah apabila ada perasaan malu dalam keluarga.
  • Kesimpulan
    Rasa malu atau aib dalam keluarga seringkali membuat anggota keluarga berjuang dalam setiap waktu untuk menutupi, sehingga membuat semua anggota keluarga tidak bertumbuh dalam kasih karunia Tuhan, untuk memandang keadaan secara benar. 2 Peter 3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

Melepaskan Sikap Saling Cuek Dalam Keluarga

Dasar dari kehidupan sebuah keluarga Kristiani adalah kasih. Ketika ada sikap saling cuek diantara masing-masing anggota keluarga, kita perlu mencerminkannya dengan nilai-nilai kehidupan Kristiani itu sendiri. Apakah kasih yang seharusnya menjadi dasar hubungan dalam keluarga telah dinyatakan secara benar? Atau justru ada hal-hal yang menghambat kasih itu dinyatakan secara utuh? Romans 12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
A. Memahami Rasa Cuek
Cuek dapat berarti : Masa bodoh atau pengabaian terhadap situasi, masalah, hubungan antara anggota keluarga. Cuek adalah salah satu cara melarikan diri untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan sikap cuek.
1. Sikap Cuek Berhubungan dengan tingkat keintiman dalam keluarga:
  • Seberapa besar kasih di dalam keluarga
  • Bagaimana menyatakan kasih: pemberian, pujian, cemoohan
  • Bagaimana mempertahankan keintiman
Dalam sebuah keluarga yang disfungsi, cara-cara menyatakan kasih dan mempertahankan keintiman akan dilakukan dengan tidak sehat. Salah satu ekstrim yang terlihat dalam keluarga disfungsi, kasih jarang atau bahkan tidak pernah dinyatakan sehingga hubungan satu sama lain cenderung dingin atau bahkan penuh konflik. Contoh lain adalah bahwa kasih terkadang diperlihatkan dengan cara saling mencemooh, yang sebenarnya bukan terjadi karena saling membenci, namun karena tidak tahu bagaimana cara menyatakan kasih secara sehat.
2. Komunikasi: Bagaimana cara berinteraksi satu sama lain
1. Bagaimana cara menyatakan pendapat?
2. Bagaimana cara mendengarkan dan memperhatikan?
3. Bagaimana mengelola emosi?
4. Bagaimana peraturan dalam keluarga dijalankan?
Keluarga yang disfungsi cenderung kaku dalam cara-cara berkomunikasi. Seringkali komunikasi hanya berlangsung satu arah, dimana pendapat anggota keluarga tidak diperhatikan. Emosi dan kemarahan diekspresikan dengan cara yang manipulative atau menakutkan. Komunikasi yang tidak terjalin dengan baik akhirnya dapat menimbulkan pola cuek/tidak peduli satu sama lain.
B. Penyebab Sikap Cuek dalam keluarga
1. Keturunan
1. Pola Pengasuhan
Faktor ini memegang peranan penting munculnya sikap cuek dalam keluarga. Seorang ayah yang jarang ngobrol dengan anaknya, bahkan jarang menyapa secara langsung dan hangat tanpa sadar dapat memberikan pola yang sama dalam diri anak-anaknya, sehingga merekapun jarang saling memperhatikan satu sama lain. Dapat juga orangtua yang terlalu sibuk sehingga jarang punya waktu di rumah, sehingga jarang pula untuk saling tahu kegiatan anggota keluarga yang lain. Hal ini lama kelamaan menimbulkan sikap cuek.
James Dobson dalam bukunya Dare to Discipline berpendapat ada masa-masa kritis dalam empat atau lima tahun yang pertama dalam hidup anak-anak dimana dia dengan mudah dapat diajar tingkah laku yang patut. Jika sejak balita tidak pernah dilatih untuk menghargai orangtua dan belajar menolong, sukar diharapkan ia tumbuh jadi remaja ataupun orang dewasa yang sopan santun dan penolong. Amsal 1:8 Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu
Contoh lain adalah dalam keluarga besar, yang memiliki banyak anak. Perhatian orangtua seringkali tidak maksimal karena ada begitu banyak hal yang perlu diurus. Anak tumbuh tanpa perhatian yang cukup sehingga lama kelamaan akan muncul pola cuek dalam hidupnya.
2. Keteladanan
Anak akan melihat apa yang dilakukan orangtuanya. Ketika anak melihat bahwa orangtuanya cenderung dingin satu sama lain atau kurang komunikasi, hal ini dapat menimbulkan pola yang sama dalam diri seorang anak. Tanpa sadar ia akan meneladani sikap orangtuanya sehingga ia menjadi cuek. Bahayanya adalah, ketika suatu saat ia menjadi orangtua, dan memiliki anak-anak juga, ia telah terbiasa dengan sikap cuek tersebut sehingga tak jarang sikap cueknya tanpa ia sadari melukai pasangan hidup dan anak-anaknya, yang membutuhkan perhatian dan kasih yang maksimal. Ephesians 5:15 15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
2. Pengalaman Negatif
  • Penolakan dan Pengabaian
  • Ada orang-orang yang mengalami penolakan dan pengabaian yang akhirnya melakukan tindakan yang sama akibat luka yang pernah dialami. Ia secara sadar melakukan tindakan cuek karena ingin melakukan balas dendam terhadap anggota keluarganya, misalnya ayah dan ibunya atau saudaranya, karena mereka telah menolak dan mengabaikan pada masa lalunya.
  • Pelecehan, Seseorang yang mengalami ketakutan untuk terluka yang kedua kali, atau seseorang yang tidak mau lagi mengingat sakitnya pada masa lalu, sehingga sikap cuek ini member rasa aman dan nyaman dalam dirinya.
3. Hal-hal Lain
  • Saling berjauhan sehingga jarang ketemu
  • Orang-orang yang saling berjauhan antara anggota keluarga, misalnya anak-anak yang tinggal ditempat yang berbeda karena sekolah atau bekerja. Mereka waktu kembali ke rumah merasa tidak rekat dalam hubungan sehingga menimbulkan rasa loe-loe – gue-gue, urusanmu-urusanmu – urusanku-urusanku. Hal ini yang semakin membuat semakin kuat cuek dan mengabaikan orang lain dalam anggota keluarga tersebut.
  • Focus pada satu hal dan melupakan hal-hal yang lain. Misalnya: seorang anak yang mengabaikan keadaan keluarga untuk sementara waktu dapat berkonsentrasi atau berfokus pada persiapan ujian sekolah. Itu baik, tetapi ketika focus itu tidak ada dan anak tersebut cenderung nyaman dengan rasa pengabaian/cuek dengan situasi sekitarnya ini yang membahayakan.
C. Akibat Rasa Cuek
  • Keintiman dan komunikasi, Ada rumah tangga yang menjadikan rumah hanya sebagai tempat transit atau tempat untuk tidur, hal ini terjadi karena tidak ada keintiman antar anggota keluarga. Misalnya, Orang tua yang sibuk dengan pekerja di luar rumah, anak-anak yang lebih senang bermain atau hidup di luar rumah. Hubungan anak dan orang tua hanya sebatas status atau anak merasa butuh dengan uangnya bukan nasehatnya. Orang tua merasa sudah melakukan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
  • Sulit mendapat teguran atau kritik, Ada suatu kepercayaan bahwa kasih yang berlimpah-limpah membuat disiplin tidak dianggap penting. Teguran dan kritik yang baik dianggap mengganggu. Bahkan, Kasih tanpa pengajaran tak akan menghasilkan anak yang mempunyai kepribadian yang penuh keyakinan dan menghargai sesamanya
  • Individual dan Egois, Anak-anak yang tidak dapat memperhatikan orang lain dan situasi di sekitarnya akan tumbuh menjadi pribadi yang individual dan egois. Apabila hal ini terjadi maka di dalam pikirannya yang terpikir adalah untung dan rugi.
D. Memandang Sikap Cuek dari sudut pandang Ilahi
  • Peduli terhadap sekitarnya, Philippians 2:4-5 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
  • Untuk melepaskan sikap cuek, maka kita perlu mengasihi mereka, 1 Peter 2:17 17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!
  • Cuek tidak rela menerima teguran, Proverbs 15:12 Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak. Proverbs 12:15 15 Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak. Proverbs 19:20 20 Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan. Proverbs 15:32 Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.
  • Menghargai orang lain 1 Peter 5:5 5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
  • Cuek tidak rela menolong, tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk bertolong-tolongan menanggung beban bersama. Galatians 6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
  • Sikap empati, kemampuan seseorang untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap sesamanya, dimana ia turut merasakan secara mendalam akan adanya penderitaan, gejolak hati atas segala sesuatu yang dihadapi sesamanya, Luke 7:13 3 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” Psalm 139:23-24 Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; 24 lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
E. Langkah-langkah Praktis melepaskan sikap cuek dalam keluarga
  1. 1. Miliki prinsip yang benar tentang kasih dalam keluarga
  • Buatlah daftar hal-hal dimana Anda sering cuek terhadap anggota keluarga yang lain dan mulailah lakukan yang sebaliknya
  • Berdoa agar Allah menyatakan dalam diri Anda mengenai prinsip yang benar mengenai kasih dalam keluarga dan bertanya adakah hal-hal yang selama ini menghambat Anda untuk bersikap peduli
  1. 2. Buatlah langkah-langkah kecil (baby-step) yang realistis untuk mulai menunjukkan sikap peduli, contohnya:
  • a. Makan bersama
  • b. Menanyakan kegiatan hari ini-pulang jam berapa, ketemu siapa, dll
  • c. Mengingat tanggal ultah setiap anggota keluarga
  • d. Ucapkan salam, sperti: selamat tidur
  • e. Nonton tv bersama
3. Mulai membangun komunikasi dalam keluarga
4. Mulailah membaca buku inspirasional atau motivasional mengenai komunikasi yang sehat dalam keluarga
5. Jika Anda tetap merasa terhalang untuk memiliki sikap perhatian terhadap keluarga, mungkin Anda perlu dilayani untuk melihat kehidupan Anda, apakah ada hal-hal dalam pola pengasuhan yang ‘merusak’ bahasa kasih tersebut atau mungkin ada pengalaman negatif yang membuat Anda menjadi orang yang cuek.

BERSYUKUR bersyukur pada saat tidak ada harapan (Hopeless)

BERSYUKUR #2 bersyukur pada saat tidak ada harapan (Hopeless)

Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang mengalami seperti tema ini. Ia merasa tidak ada jalan keluar, tidak ada pintu lagi. Ia merasa pada saat mengalami hopeles merasa seperti Tuhan pun tidak dapat menolong, mustahil, perlu muzijat dll. Pada saat seperti ini orang sangat sulit untuk bersyukur, padahal mungkin hopeles itu hanya satu bagian saja dan banyak berkat yang lain yang Tuhan berikan, tetapi sering kali ia tidak merasakan hal itu. Misalnya orang yang mengalami penyakit menahun merasa bahwa tidak akan sembuh lagi, orang yang mengalami banyak kegagalan merasa seperti tidak ada jalan keluar untuk dirinya, dll.
Pertanyaannya DIMANAKAH TUHAN SAAT MENGALAMI KONDISI INI?
Bersyukur, sama artinya dengan berterima kasih. Sesuatu pernyataan atau tindakan yang melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dari orang lain ataupun dari Allah. Bersyukur merupakan suatu ucapan terima kasih atas pertolongan-Nya. Bersyukur merupakan ungkapan yang wajar dari seseorang kepada Allah sebagai respons atas kasih-Nya, pertolongan-Nya, perlindungan-Nya dan pemeliharaan-Nya.
Bagi umat Allah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, ucapan syukur bukanlah sarana untuk menyanjung dan memanipulasi Allah demi memenuhi keinginan manusia, bukan pula sikap yang dipaksakan atau dibuat-buat, melainkan sebuah spontanitas dan penyembahan yang penuh hormat, sukacita dan komitmen kepada pribadi Allah. Ezra adalah salah satu dari orang-orang Israel yang dibuang di Babel.  Ia mengalami hopeless, dan ia tahu ada saatnya di mana Tuhan sanggup mengangkat dan memulihkan,  “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”  (Amsal 23:18).
Tidak ada harapan/hopeless sama dengan orang yang dalam keadaan putus asa, stress/depresi, kekesalan, pesimisme, kesedihan diri, menyerah. Hopeless adalah kondisi dimana seseorang merasa tidak ada harapan lagi dalam situasi yang ia alami. Seringkali kondisi ini kemudian membuat seseorang menjadi takut, bingung, dan akhirnya jika tidak tertangani seseorang dapat mengalami stress berulang. Orang-orang yang pernah mengalami masa-masa kekurangan dalam hidup mereka memiliki kecenderungan untuk ‘terjatuh’ pada kondisi hopeless. Orang yang sedang mengalami penyakit menahun sering kali merasa hopeless. Mereka merasa tidak ada jalan keluar dari apa yang dialami sehingga seringkali orang cenderung mengalami ketakutan atau kenekatan. Orang yang memiliki reaksi ketakutan dapat terjadi karena inferior, Tuhan tidak akan menolong/bertindak. Lalu orang yang nekat juga merasa bahwa Allah juga akan tetap mengabaikannya. Sering kali orang yang hopeless memiliki hubungan yang buruk dengan Tuhan, identitas diri dan kasih karunia. Kita tidak pernah bisa mengatur situasi kehidupan kita, ada hal-hal yang menyenangkan dan mudah dilalui, namun ada pula yang sulit, terkadang silih berganti dialami. Pertanyaannya, bagaimana reaksi kita saat kita mengalami kondisi ‘hopeless?’ Apakah kita melaluinya dengan cara-cara yang sikap hati yang benar?
Kalau kita lihat secara arti harafiahnya maka ada perbedaan antara sikap Bersyukur dan sikap Hopeless.

Beberapa perbedaan tersebut adalah:

  • Bersyukur Mengakui Allah menolong vs Hopeless, Tidak mengakui pertolongan Allah
  • Bersyukur untuk hal yg belum terlihat vs Hopeless, ingin melihat bukti nyata
  • Bersyukur melihat ada jalan vs Hopeless, semua pintu tertutup
  • Bersyukur, bangga kepada kasih karunia vs Hopeless, tidak mengakui kasih karunia
  • Bersyukur, melihat dirinya dg benar vs Hopeless, melihat dirinya salah, rusak
Alasan untuk tetap Bersyukur pada saat hopeless
Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, Psalm 107:1
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Apapun situasi dan kondisi Alkitab mendorong kita untuk tetap mengucap syukur. Walaupun ada perbedaan dalam sikap seseorang ketika bersyukur dan sikap orang yang hopeless, tetapi semua kembali kepada pilihan dan sikap hati kita.

  • Bersyukurlah ketika tidak ada jalan karena Allah yang akan memberikan jalan keluar, 1 Corinthians 10:13
    Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
  • Bersyukurlah ketika masa depan sepertinya suram, karena Tuhan memberikan jalan keluar untuk masa depan. Proverbs 23:18
    Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.
  • Bersyukur pada waktu mengalami kegagalan-kegagalan karena Tuhan memiliki cara dan rencana yang tepat. Romans 8:28
    Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Hal yang menghalangi bersyukur dalam siatuasi ini

  • Tidak melihat Allah yang memiliki kedaulatan; Semua yang ada dalam tangan dan kendali Tuhan. Effesus 1:11-12
    Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya 12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.
  • Lebih memandang yang negatif dari pada yang positif, ada kecenderungan orang yang tidak punya harapan hanya melihat negatifnya dari sikap, situasi, tindakan dan bahkan harapan kepada seseorang dan Tuhan. Psalm 42:5
    Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
  • Melihat situasi atau keadaan hanya saat ini, tanpa mau melihat hari-hari kedepan sehingga yang muncul adalah omelan, pergumulan dan sulit untuk bersyukur
  • Merasa tidak puas atas keadaan, setiap kita yang mendapatkan ketidakadilan pasti tidak puas atas peristiwa itu. Sering kali kita akan menuntut balik atas perilaku, keputusan, konsekuensi atas tindakannya. Jadi bersyukur pada situasi seperti ini perlu kehendak yang besar.
Kapan seharusnya bersyukur

  • Ketika tahu seperti tidak ada jalan keluar
  • Ketika tahu perlu mujizat dan pertolongan Tuhan walaupun sepertinya mustahil.
  • Ketika merasa sedang putus asa
  • Ketika merasa ada tekanan besar stress dan depresi

BERSYUKUR #3 Bersyukur di tengah penderitaan

Kita sering kali pada waktu menghadapi penderitaan lebih terfokus untuk penderitaan-penderitaan sehingga bagitu banyak orang bergumul untuk bersyukur. Bagaimana mungkin seseorang dapat bersyukur ketika sedang menderita? Itu sama saja mensyukuri penderitaan, dan itu adalah kebodohan. Biasanya orang yang menderita mengeluarkan kata-kata keluhan, umpatan, kemarahan bahkan caci maki dari mulutnya, dan bukan ucapan syukur. Saat keadaan seperti ini begitu banyak orang bergumul untuk melihat kebaikan Allah dari sudut pandang yang lain ketika seseorang menghadapi penderitaan.
Bersyukur adalah puncak sukacita hidup, tidak ada hal lain dalam kehidupan yang melebihi perasaan aman, hangat, nyaman, suka, karena berada dalam genggaman kuasa kasih karunia. Dari situlah mengalir ungkapan syukur di dalam orang yang hatinya ada kasih Allah. Kenyataan hidup yang tidak enak dan penderitaan menjadi penghambat untuk mengucap syukur.

Orang yang tidak dapat mengucap syukur adalah ciri orang yang tidak mengenal Tuhan. Romans 1:21
Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
Syukur bukan sebagai kewajiban tetapi sebuah kesempatan. Syukur membuat kasih-karunia-Nya nyata untuk melihat keadaan dalam kendali dan kehendak Allah. Ephesians 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. 1 Thessalonians 5:18
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Kedengarannya syukur berlawanan dengan penderitaan. Namun keduanya berhubungan erat. Jika orang tidak pernah merasakan penderitaan sedikit pun, rasa syukur sulit untuk dapat dirasakan dan dialaminya.
Daud menjadi contoh dalam mengungkapkan syukur ketika menghadapi penderitaan. Psalm 42:5
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Apakah itu penderitaan
Penderitaan merupakan bagian dari hidup setiap orang. Ia tidak memilih orang kaya atau orang miskin, orang yang berkuasa ataupun kaum lemah. Kristus telah menjadi teladan dalam menanggung penderitaan. 1 Peter 2:21-23
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. 22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. 23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
Ada beberapa penyebab orang mengalami penderitaan:
  • Akibat dosa yang dilakukan sendiri, Misalnya : menderita di penjara karena mencuri, sakit karena ulah kita sendiri, pilihan-pilihan yang keliru yang akhirnya berujung penderitaan.
  • Menanggung konsekwensi orang lain, Misalnya: kecelakaan karena orang lain (lalu lintas, kena bom, gempa) 1 Peter 2:19-20 Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. 20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
  • Karena bencana alam (stunami, gempa, kemarau panjang, dll)
  • Menderita karena mengikut Kristus , 2 Timothy 2:9-10
    Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. 10 Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.
Mengapa kita untuk tetap Bersyukur pada saat menderita?

  • Penderitaan bukanlah penghambat orang untuk tetap bersyukur. Hanya karena kasih karunia maka orang dapat menerima semua situasi dalam kehendaknya. Colossians 4:2
    Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Fanny Crosby seorang komponis, dia harus menderita buta seumur hidup sejak usia dini oleh karena keteledoran seorang dokter, tetapi dia selalu bersyukur dalam penderitaannya dan berterimakasih kepada Tuhan karena semua itu anugerah-Nya.
  • Ada kemuliaan dibalik penderitaan 1 Peter 1:6-7
    Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. 7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
  • Tuhan tahu apa yg terjadi dalam hidup anak-Nya, Tuhan mengizinkan penderitaan itu terjadi, tahu tujuannya, dan tahu sampai sebatas mana kita sanggup menanggungnya, bahkan seburuk apapun untuk adalah mendatangkan kebaikan. Romans 8:28
    Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Mengapa orang menderita sulit bersyukur?

  • Fokus pada kelemahan/penderitaan
    Orang sering kali lebih mudah berfokus kepada penderitaan yang sedang dihadapi dari pada memikirkan yang positif. Kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang dimiliki. Katakanlah orang yang merasa miskin maka yang dipikirkan adalah apa yang dimiliki. Orang ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya maka terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, hanya menikmati kesenangan. Orang tersebut tetap merasa tidak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapa pun banyak yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam arti yang sesungguhnya.
  • Kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Sering kali merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
  • Tidak melihat kemurahan Allah, orang sering mengalami kesulitan bersyukur karena tidak merasakan kemurahan Allah dan semua yang dimiliki merasa hasil serih payahnya.
Langkah-langkah praktis

  • Mengakui perasaan menderita
  • Menyatakan kepada Allah
  • Meminta ampun
  • Menyerahkan penderitaan itu kepada Allah
  • Memulai mengucap syukur

MENGHORMATI #1 Mengembangkan rasa hormat kepada orang tua

Akhir-akhir ini banyak sekali berita tentang pemberontakan anak kepada orang tua. Seorang anak tegak membacok orang tuanya. Seorang anak perempuan berusia 13 tahun, marah kepada orang tuanya, karena orang tuanya menegurnya pulang malam. Ada banyak anak yang tidak bisa menghormati orang tuanya yang telah berjerih lelah membesarkannya, dan mengalami kesulitan untuk memiliki hubungan yang sehat dengan mereka.
Mengormati dapat berarti: menghargai, sopan, patuh atau suatu  perbuatan yg menandakan ketundukan. Menaruh rasa hormat kepada orang tua adalah suatu sikap yang patut dilakukan kepada setiap orang. Menghormati orang tua bukanlah pilihan, tetapi merupakan salah satu dari 10 hukum Tuhan Exodus 20:12  Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
Itu artinya menghormati orang tua sebagai sebuah kewajiban/keharusan seorang anak, dan apabila itu tidak dilakukan maka anak tersebut berdosa dihadapan Tuhan. Orang tua bertindak sebagai wakil Tuhan untuk anak-anaknya dalam hal mengasihi, memelihara, mengasuh dan juga memperhatikan. Itulah sebabnya Firman Tuhan memerintahkan agar anak-anak memiliki rasa hormat dan takut kepada orangtuanya seperti umat takut kepada Tuhan. Munculnya anak durhaka karena ada anak yang tidak menghormati dan menghargai orang tuanya. Betapa sedihnya orang tua yang memiliki anak tidak mau menghormati orang tuanya.
Seorang anak yang hormat  kepada orang tua, maka akan bersikap sopan dan patuh terhadap orang tua. Di dalam hukum Taurat tertera perintah yang mengharuskan orang Israel untuk menjatuhkan sanksi kepada anak yang mengutuki orangtuanya, Imamat 20:9  Apabila ada seseorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri.
Menghormati orang tua juga dapat diaplikasikan dalam bentuk tanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orang tua. Tuhan Yesus menegur orang Yahudi yang menyelewengkan perintah Tuhan akan persembahan berdasar ketidakrelaan memenuhi kebutuhan orang tua Matius 15:4-6  Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.  5 Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah,  6 orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. Ayat ini memperlihatkan bahwa Tuhan menginginkan seorang anak untuk bertanggung jawab memelihara kelangsungan hidup orang tuanya.

Mengapa anak sulit Mengormati Orang Tua

Ada banyak pengalaman yang melukai yang sering kali menjadi pemicu seorang anak tidak menghormati orang tua. Orangtua yang sebelumnya berasal atau hidup dalam otoritas yang kaku akan melahirkan anak-anak yang terluka. Ephesians 6:4  Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Anak-anak yang menyimpan banyak luka dalam hidupnya menjadikan mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang hidup dengan penuh dendam. Hebrews 12:15  Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
Perlakuan orang tua yang sering kali melukai anaknya dan menjadikan anaknya bertumbuh tidak dapat menghargai orang tuanya. Kolose 3:21  Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
Banyak kasus terjadi bahwa anak-anak yang mengalami penolakan dalam hidupnya dapat cenderung sulit menghormati orangtua. Contohnya anak yang dititipkan di tempat saudara sementara orangtuanya sibuk bekerja, dapat mengalami banyak kesulitan saat diminta menghormati orangtua yang jarang ada bersama dia.
Ada banyak orang tua yang mewariskan sikap-sikap tidak menghormati orang lain. Sikap ini dapat dipandang sebagai sebuah pengajaran kepada anak terhadap orang lain. Secara prinsip orang tua haruslah menjadi orang tua yang konsisten, orang tua yang sama dalam dan luar, orang tua yang tidak berpura-pura. Tatkala anak menyaksikan ketidak-konsistenan reaksi yang biasanya ditunjukkan adalah kemarahan kepada orang tua, dan kemarahan itu berakhir dengan tidak lagi hormat kepada orang tua.
Orang tua seharusnyalah menjadi orang yang benar, orang yang benar bukan orang yang sempurna tapi orang yang terus berusaha untuk hidup benar. Waktu dia salah, dia berbuat kekeliruan seyogyanya dia minta maaf kepada anak, waktu dia tahu dia terlalu cepat emosi seyogyanyalah dia belajar untuk mengekang emosi.
Ada orangtua yang pasif, atau bahkan tidak bertanggungjawab terhadap keluarganya, meninggalkan anak-anak saat mereka masih memerlukan kasih sayang, biaya dan dukungan. Tanpa sadar mereka meneladankan kehidupan negatif yang kemudian membawa anak sulit menjadikan orangtuanya sebagai contoh yang baik bahkan sulit menghormati dalam banyak segi. Contohnya, seorang ayah yang tidak pernah bekerja kemudian bergantung pada istri dan anak-anaknya dapat membuat seorang anak sulit menghormatinya.
Demikian juga bila seorang anak melihat perlakuan orangtua mereka terhadap kakek atau nenek. Ketika orangtua pun sulit menghormati kakek dan nenek (orangtua mereka), maka mereka seringkali juga akan kesulitan menerapkan hal yang sama terhadap anak, karena anak akan melihat keteladanan orangtua.

Berkat yang diterima karena menghormati orang tua

-          Ada pepatah anak yang memiliki kerusakan hubungan dengan ayah sering kali berjuang dan mengalami kesulitan berhubungan dengan Bapa. Maka seorang anak yang dapat menghormati orang tua, akan memiliki hubungan yang baik dengan Allah.
-          Menjadi orang yang berbahagia dan Panjang umur
Kebahagiaan, yang dimaksud adalah kesukacitaan dari Tuhan dan panjang umur, yaitu kesehatan dan kesejahteraan dari Tuhan.
Ephesians 6:1-3  Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.  2 Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:  3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
-          Ada berkat dimana kamu tinggal, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Ulangan 5:16)
-          Keturunan kita pun akan cenderung mudah melakukan hal yang sama terhadap kita, karena sudah ada keteladanan terlebih dahulu

Dampak Ketika sulit menghormati Orang Tua

Anak yang tidak menghormati orang tuanya akan dikutuk. “Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya.” (Ulangan 27:16a). Salah satu contoh dalam perjanjian lama adalah Absalom. Ia menjadi orang yang berhasil dan memiliki segalanya baik berupa fasilitas dan harta karena Daut ayahnya. Tetapi patut disayangkan, setelah dewasa ia malah mengusir ayahnya sendiri dan hendak membunuhnya. Hidup Absalom pun berakhir tragis sebagai akibat ia berlaku kurang ajar dan tidak menghormati ayahnya.
Anak yang tidak menghormati orangtua akan mengalami kesulitan untuk memiliki ikatan dengan orangtuanya. Sulit untuk akur, sering berselilih paham, sulit berkomunikasi dengan sehat, cenderung punya perasangka negatif terhadap orangtua, dan akan mengalami kesulitan meneladankan hal yang sama terhadap keturunannya kelak.

Firman Tuhan tentang Menghormati Orang Tua

-          Exodus 20:12   Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
-          Deuteronomy 5:16  Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
-          Mark 10:19  Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!”
-          Ephesians 6:2-3  Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:  3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.

Bagaimana jika kita menjadi korban dari sikap orang tua?

Bagaimana jika kita menjadi korban dari orang tua yang terus menerus menyakiti, tidak bertanggung jawab atau tidak memberi contoh yang baik?
Kita tetap harus menghormati dan mengampuni mereka, membuang kecewa dan sakit hati. Kita perlu membedakan perilakunya dan orangnya. Satu persatu perbuatan mereka di bawa kepada Tuhan untuk pengakuan bahwa saudara mengampuni mereka dengan tulus dan tidak membalasnya, baik dengan kata-kata ataupun sikap. Kita lakukan sampai kita benar-benar bebas kepahitan. Kadang hal ini tidak mudah, namun jika kita mengenal dan mengasihi Allah, maka kita memiliki kekuatan dengan petolongan Roh Kudus. Mengampuni orang tua akan membuat Allah dimuliakan, Dia akan memberkati kehidupan kita dan bahkan Tuhan akan memakai kita untuk menjadi kesaksian termasuk bagi orang tua yang bermasalah. Kita juga perlu melepaskan penghakiman atau cap yang kita buat terhadap kelemahan-kelemahan mereka, dan mulai memandang orangtua kita secara seimbang, baik kelemahan maupun kelebihan mereka, baik kebaikan maupun sikap negatif mereka.

Langkah2 praktis Menghormati Orang Tua

-          Ketika orang tua memintamu melakukan sesuatu yang bisa dilakukan saat itu juga dan itu masuk akal, janganlah menunda. Lakukanlah sekarang juga!
-          Ketika orang tuamu mengatakan, “Tidak!”, kamu sebaiknya tidak berteriak, menangis, atau, marah-marah. Ingatlah bahwa mereka mengasihi kamu.
-          Jangan bersikap kasar terhadap orang tua atau berteriak kepada mereka. Allah menjadi sedih jika kita bersikap seperti ini. Taatilah orang tuamu, dan ungkapkanlah bahwa kamu mencintai mereka setiap hari.
-          Dengarkan ketika mereka berbicara, usahakan jangan menyela, karena ketika kita menyela justru seringkali mereka akan marah dan menganggap kita menjadi anak yang tidak memperhatikan orangtua

Selasa, 15 Januari 2013

"CEMBURU" Mengatasi rasa cemburu kakak beradik


Cemburu dalam hubungan keluarga dapat muncul karena adanya perasaan bahwa ia tidak cukup baik keadaannya daripada saudaranya, tidak cukup dikasihi oleh orang lain dalam hal ini orang tuannya atau keluarga besarnya, atau merasa tidak yakin diterima atau disayangi oleh mereka. Rasa cemburu yang tidak terselesaikan pada waktu kecil akan berdampak sampai dewasa. Dampak dari rasa cemburu ini tidak hanya tertuju kepada kakak atau adiknya tetapi juga kelak ketika dewasa dapat meluas kepada keluarga besar dan masyarakat.

Cemburu adalah perasaan negatif ketika kita menghadapi kemungkinan kehilangan sesuatu yang kita rasa adalah milik kita karena diambil oleh orang lain. Perasaan ini biasanya melibatkan 3 orang yakni anda, orang yang kita inginkan dan seorang lagi yang berpeluang untuk menggagalkan niatan anda. Cemburu membuat seseorang menaruh curiga dan prasangka buruk, bukan hanya kepada orang yang dicemburui tetapi juga ada pihak lain yang berperan disitu. Cemburu menjadi suatu emosi yang sangat merusak dalam kehidupan seseorang. Cemburu adalah tipe dosa yang tercatat di Yesaya 14:14 Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!
Cemburu tidak saja merusak relasi tetapi juga menghancurkan persaudaraan dalam keluarga.
Cemburu dapat terjadi juga karena perasaan iri terhadap keadaan dan kemampuan saudaranya. Adik dapat cemburu kepada kakak karena kakaknya merasa lebih berbakat, lebih baik keadaan, lebih tampan bagi pria/lebih cantik bagi wanita begitu juga sebaliknya. Cemburu menimbulkan perasaan tidak senang atau perasaaan benci dan memusuhi.
Ada suatu kecenderungan bahwa cemburu bersifat pribadi dimana targetnya adalah seseorang yang dianggap sebagai saingan atau ancaman. Yakub targetnya Esau, anak-anak Yakub targetnya Yusuf. Berbahayanya cemburu sering menyebabkan kekerasan secara fisik, emosi juga verbal seperti memaki, memfitnah, mengkritik maupun secara fisik. Contoh kasus keluarga Ishak-Ribka (Kej. 25-27), mereka memiliki anak kembar Yakub dan Esau. Dan dalam pertumbuhan kedua anak itu muncul kecemburuan diantara mereka berdua. Yakub cemburu karena ayahnya lebih dekat dengan kakaknya, menurut Yakub, Esau lebih dikasihi dan lebih disayang. Yakub juga cemburu karena keadaan Esau lebih baik karena ia yang akan menerima hak kesulungannya.

Penyebab cemburu dalam keluarga
Adanya latar belakang atau warisan/teladan, diajarkan dari keluarga, Kecemburuan yang tidak terselesaikan menular dan berdampak kepada generasi berikutnya. Cemburu Yakub kepada Esau turun kepada anak-anaknya dimana anak-anaknya mencemburu terhadap saudaranya sendiri yaitu Yusuf. Cemburunya Yakub tidak berhenti disitu tetapi turun kepada anak-anaknya. Dalam hal ini seorang ayah yang cemburu melahirkan anak-anak yang cemburu.

Pengalaman yang melukai, Yakub cemburu karena pengalaman ayahnya yang pilih kasih, saudara-saudara Yusuf cemburu karena ayahnya yang pilih kasih, Kain cemburu dengan Habel karena menurutnya Allah juga pilih kasih.

Perasaan bahwa ada hak yang dilanggar. Cemburu biasanya melibatkan perasaan memiliki, dan orang yang merasa haknya dilanggar atau tidak diberikan sering merasa cemburu kepada orang-orang yang dianggap merebut hak atau mendapatkan hak tersebut. Misalnya seorang kakak yang merasa tidak dihargai, dan merasa cemburu karena melihat adiknya lebih dihargai dari dirinya.

Munculnya rasa cemburu dalam hubungan kakak dengan adik
Orang tua yang pilih kasih; orang tua perlu menekankan pentingnya keseimbangan dalam mengasihi anaknya, karena banyak celah bagi orang tua untuk berlaku tidak seimbang. Misalnya orang tua lebih mengasihi karena yang laki-laki daripada anak perempuan, mengasihi yang lebih pinter, lebih rajin, lebih taat, dll. Pada dasarnya setiap anak memiliki perbedaan, kelebihan dan keunikan tetapi hal itu tidak mengubah orang tua untuk tetap mengasihi secara seimbang.

Ada unsur pembanding dalam kehidupan seorang anak; ada orang tua yang memberikan sesuatu secara sembunyi-sembuyi supaya tidak diketahui anaknya yang lain. Dan ketika anak itu tahu maka ia akan cemburu.

Memberi kesempatan yang sama tanpa melihat fungsi dan kemampuan penerima; ada orang tua yang memberikan kepada anak-anaknya sama dan merata tanpa mempertimbangkan fungsi untuk si anak dan kemampuan anak.


Dampak – Reaksi Cemburu dalam keluarga
Cemburu terhadap saudaranya dapat menjadi seperti sebuah pedang bermata dua, melukai saudaranya dan merugikan diri sendiri.
  • Putusnya tali persaudaraan
  • Curiga, kakak adik yang cemburu cenderung selalu menaruh curiga apa yang dilakukan atau apa yang diterima dari orang tuanya.
  • Kemarahan yang cenderung menyerang, Genesis 27:41 Esau menaruh dendam kepada Yakub, Genesis 37:18
    Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya.
  • Berpikir Negatif atau berbohong, Genesis 37:20 Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” .
  • Egois, kakak beradik yang cemburu cenderung menjadi egois dan tidak memikirkan saudaranya
    Firman Tuhan tentang cemburu
  • 1 Corinthians 13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
  • 1 Corinthians 13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
  • Proverbs 6:34 Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam;
  • Proverbs 27:4 Panas hati kejam dan murka melanda, tetapi siapa dapat tahan terhadap cemburu?

Prinsip-prinsip mengatasi Cemburu dalam persaudaraan
Sadarilah kecemburuan Anda dengan saudara Anda; Kita perlu menyadari ada perasaan cemburu dan menyadari apa yang menyebabkan rasa cemburu itu.

Berdoa mengakui di Hadapan Tuhan untuk setiap perasaan-perasaan yang dialami yang berhubungan dengan kecurigaan-kecurigaan apabila hal itu mengarah kepada rasa cemburu.

Saat Anda sedang cemburu, Tunjukkan dengan sikap dewasa, Anda biasanya akan terlihat kekanak-kanakan. Wajar, karena perasaan semacam ini selalu identik dengan anak kecil. Maka, jika ingin menunjukan rasa cemburu ini, tunjukkan dengan cara yang dewasa. Berbicara bersama, meminta waktu untuk bisa menyampaikan perasaan-perasaannya.

  1. Bangun rasa percaya diri
Cemburu biasa adalah hasil dari ketidak percayaan akan kemampuan kita sendiri. Terkadang itu adalah rasa terpendam jauh di lubuk hati bahwa seseorang akan meninggalkan anda, atau menarik cinta dan perhatian mereka, karena anda “tak cukup baik’. Orang yang percaya diri selalu tahu bahwa meski saat mereka ditolak, bukan selalu karena mereka gagal karena kadang-kadang orang mempunyai pemikiran yang pendek. Dan meskipun mereka gagal, tak sedikitpun mengurangi rasa percaya diri mereka. Kegagalan dengan tegas menunjuk bahwa kita harus mempelajari hal yang baru.

  • Berhenti bandingkan diri anda dengan orang lain
Terkadang kita merasa orang lain seperti mendapatkan semua yang dia butuhkan dalam hidupnya. Namun jika harus berkata jujur, apakah ada orang yang tak mempunyai masalah dalam hidupnya? Mereka terkadang mempunyai hidup yang terlihat nyaman. Namun apakah hal tersebut menjamin orang tersebut bahagia? Cobalah berteman dengan orang yang anda anggap sempurna tersebut, dan anda akan menemukan bahwa di balik kesempurnaannya masih ditemui banyak kefanaan.

  • Berhentilah merasa mempunyai hak atas kehidupan orang lain
Anda merasa cemburu jika orang yang anda sayangi lebih sering berhubungan dengan orang lain dibandingkan dengan anda. Kalau begitu anda harus mempertimbangkan: “Berapa banyak waktu dalam hidupnya yang benar-benar aku perlukan?” Bisa dimengerti bahwa anda membutuhkan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang yang anda sayangi. Jika mereka sama sekali tak pernah menghabiskan waktu dengan anda, ketakutan anda mungkin benar. Namun jika mereka masih menyisihkan waktu untuk anda, dan anda masih tak terima melihat orang tersebut berinteraksi dengan orang lain, maka itu tak sehat. Cari aktivitas lain, kenalan baru. Isi waktu anda.

  • Percaya
Jika anda mencemburui seseorang, bisa berarti bahwa kepercayaan anda sudah runtuh. Kemungkinan lain, kepercayaan anda sudah pernah runtuh pada masa lalu, dan anda takut hal yang sama akan terulang pada waktu sekarang. Pertanyaan yang patut anda layangkan adalah apakah orang tersebut pernah mengingkari anda di masa lalu? Jika tidak, beri dia penghargaan, dan jangan perlakukan dia seperti penjahat. Jika orang tersebut pernah mengingkari anda, maka inilah waktunya untuk memaafkan, atau kalau tidak rasa cemburu siap untuk menggerogoti hubungan anda.

Bangun rasa percaya diri   Cemburu biasa adalah hasil dari ketidak percayaan akan kemampuan kita sendiri. Berhenti membandingkan diri anda dengan saudara Anda.